Polisi Gerebek Pelantikan Palsu
- 9 Juni 2011 07:28
- Kriminalitas
Kerugian Rp. 2,5 M Libatkan Tersangka Dari Berbagai Kota
SIDOARJO - Polres Sidoarjo membongkar jaringan penipuan berkedok pengangkatan pegawai negeri sipil (PNS). Saat merencanakan pelantikan abal-abal (palsu) di Rumah Makan Qen-di, Taman Pinang Indah, kemarin (8/6), para penipu disergap tim Reserse Kriminal dan Intelkam Polres Sidoarjo.Dua tersangka ditangkap, belasan korban diamankan.
Polisi menggerebek tempat para penipu yang waktu itu sedang dilakukan geladi kotor pelantikan palsu. Pelantikan sebenamya dirancang berlangsung pukul 18.00 petang kemarin. Namun, baru saja rencana itu disusun, polisi sudah mengepung dan menggerebek lokasi tersebut.
Begitu tahu polisi merangsek masuk, para tersangka dan puluhan korban kalang kabut. Mereka yang semula duduk di kursi masing-masing semburat menyelamatkan diri. Ada yang bersembunyi di toilet. Ada pula yang berpura-pura menjadi koki di dapur rumah makan tersebut. Dua tersangka ditangkap. Mereka adalah Achmadi, 60, warga Dusun Sukopuro, Desa Sukonatar, Kecamatan Srono, Banyuwangi. Seorang lagi ialah Endik Prayitno, 45, warga Desa Kebonsari, Banyuwangi. Achmadi mengaku sebagai pensiunan pegawai tata usaha di Badan Pengawasan (sekarang Inspektorat) Pemkab Banyuwangi. Endik adalah orang swasta, tetapi termasuk jaringan Achmadi.
Selain mereka, polisijuga mengamankan Nonok Wartono, anggota Satpol PP Sidoarjo yang diduga terlibat dalam jaringan tersebut Polisi kini mengejar sejumlah nama yang diduga terkait dengan jaringan itu. Mereka disebut-sebutbemama Elizabet Sussanti, warga Pacar Keling Surabaya; Yusman, Muat Zaeni, warga Perumahan Bumi Suko Indah, Sidoarjo; dan Nurzen, warga Desa Gagangpanjang, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo. Dari tangan para tersangka, polisi menemukan barang bukti belasan ijazah SMA, rekapan daftar nama calon CPNS palsu, dan uang Rp 4,4 juta.
Selain itu, 12 korban penipuan juga diamankan. Para korban itu sudah menyetor uang ke Achmadi total Rp 636 juta. Namun, jika ditotal menurut rekapan daftar korban yang mencapai 104 orang dan menyetor uang melalui Achmadi, uang setoran mencapai sekitar Rp 2,5 milyar.
Terbongkarnya kasus itu bermula dari laporan korban ke Polres Sidoarjo.Mereka yang berasal dari berbagai daerah mengaku tertipu oleh komplotan Achmadi. Para korban juga memberi tahu bahwa para pelaku dan para korban bakal bertemu sekitar pukul 11.00 kemarin di Rumah Makan Qen-di. Rupanya, pertemuan itu merupakan geladi kotor untuk pelantikan abal-abal pada petang harinya. Para korban juga dijanjikan mendapatkan SK dari pemprov.
Kapolres Sidoarjo AKBP Eddy Hermanto mengatakan, dalam menjalankan aksi, jaringan penipu itu memiliki sebelas koordinator yang bergerak di beberapa daerah. Salah satu yang sudah terungkap adalah koordinator Banyuwangi yang dipimpin Achmadi. Dia menawarkan jasa untuk bisa memasukkan seseorang menjadi PNS dengan tarif tertentu. "Lulusan S-1 Rp 80 juta, D-3 Rp 60 juta, dan SMA Rp 40 juta," katanya.
Menurut Eddy, penipuan sudah berlangsung sejak 2010. Korban yang sudah membayar dijanjikan segera diangkat menjadi PNS. Modusnya, pelaku mengaku memiliki jaringan dilingkungan pemprov dan bisa memasukkan korban sebagai PNS. Agar meyakinkan, korban dimintai sejumlah syarat berupa biodata dan ijazah dengan dalih persyaratan administratif. Sebelumnya, jaringan penipu itu dan korban sudah bertemu dua kali di Rumah Makan Nur Pacific dan Ria Galeria Surabaya.
Achmadi mengakui dirinya adalah koordinator wilayah Banyuwangi. Dia bahkan menyebut ada sepuluh koordinator yang merekrut korban. Dia masuk jaringan setelah bertemu Nurzen dan dikenalkan dengan Elizabet. Achmadi lantas ditunjuk sebagai koordinator Banyuwangi.
Selain itu, dia juga berhubungan dengan Muat Zaini yang dikenal sebagai PNS di Surabaya dan bekerja di kawasan Wiyung. Dan sana„ mereka lantas berhubungan dalam mencari korban. Menurut dia, uang yang sudah terkumpul disetorkan ke Elizabet "Dia (Elizabet, Red) mengaku orang dekat gubernur," katanya. Pria yang pensiun pada 2005 itu juga berhubungan dengan Edi Mulyono yang juga mengaku berdinas di Surabaya.
Kasatreskrim Pokes Sidoarjo AKP Ernesto Saiser mengatakan,polisi masih mencari sejumlah nama yang disebut pelaku yang sudah tertangkap. Elizabet sudah dinyatakan buron. "Pengumpulan tadi (kemarin, Red) untuk meyakinkan korban yang sudah mulai gelisah," ucapnya.
Salah seorang korban, Suyono, warga Desa Cluring, Banyuwangi, mengaku tidak menyangka akan terjadi seperti itu. Dia tertarik karena ditawari Achmadi yang merupakan teman sekolahnya dulu. Ayah Wahyuningtyas itu sudah menyetor Rp 75 juta ke Achmadi. "Saya hanya ingin anak saya jadi PNS," ucapnya. Suyono mengaku percaya kepada Achmadi karena dia pensiunan pegawai pemkab. Uang Rp 75 juta disetorkan dengan transfer tiga kali.
Anaknya dijanjikan akan dilantik pada April 2010. Namun, janji itu tidak terbukti. Achmadi lantas menjanjikan pelantikan lagi pada Oktober 2010. Lalu, tersangka janji lagi pelantikan pada Juni. Tetapi, lagi-lagi janji itu hanya bualan belaka. Suyono pun kecewa dan yakin telah jadi korban penipuan.
Korban lain, Dita Rahmi Utami, 25, warga Desa Gedang, Kecamatan Porong, mengaku ditawari menjadi PNS Pemprov Jatim sejak setahun lalu oleh seseorang bemama Arif Dia tinggal di Jalan Semarang, Bubutan, Surabaya. Dita dimintai uang Rp 40 juta agar bisa menjadi PNS. Uang itu diangsur dua kali. "Saya tidak tahu bagaimana nasib uang saya," ucapnya lirih.
Sementara itu, Elizabet memang dikenal warga Jalan Oro-oro Gang 2, Pacar Keling, Tambaksari. Dia dikenal sebagai sosok yang tertutup. Perempuan yang akrab disapa Santi oleh warga sekitar itu temyata telah lama pindah dari rumah bemomor 9 di gang tersebut "Sudah lama pindahnya.Saat suami saya belum jadi ketua RT," kata Siti Fatimah, salah seorang warga setempat.
Elizabet disebut warga sering dicari orang. Itu dinyatakan oleh Aisyah yang kini menjadi pembeli rumah Elizabet. Orang yang mencari Elizabet ada yang dari salah satu bank swasta. Ada juga pegawai Salah satu pengembang real estate kenamaan. "Memang banyak orang yang nyariin dia," ujar Aisyah.
Di bagian lain, Kapala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya Yayuk Eko Agustin mengaku belum bisa memberikan keterangan soal keterlibatan anak buahnya."Saya butuh waktu untuk melihat ke database dulu," Ujarnya.
Camat Wiyung Joko Sudiyono mengaku, di kelurahan Wiyung memang terdapat nama Muat Zaini. Yang bekerja sebagai Kasi trantib. Namun Joko sangsi akan kesesuaian orang yang dimaksud Polres Sidoarjo. "Mungkin namanya kebetulan sama. Tapi kami akan klarifikasi terlebih dahulu," tandasnya. Sementara nama Edy Mulyono belum diketahui posisi dan jabatannya di Pemkot Surabaya.(eko/junicl/roz)
JP 09 06 2011